About

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 27 November 2010

Guru SD diduga aniaya siswa

Solo (Espos) Salah seorang guru SD Pangudi Luhur 1 dan 2 Solo berinisial M, diduga telah menganiaya siswa selama beberapa kali.

Salah seorang wali murid SD Pangudi Luhur 1 dan 2, berinisial H, mengaku anaknya menjadi korban penganiayaan salah satu guru di SD tersebut. Menurutnya, perilaku guru yang keras dan menjurus kasar pada muridnya tidak dapat dibenarkan, meski alasan mendidik.

Kepada wartawan di Jalan Slamet Riyadi, Kamis (25/11), ia berharap tindakan guru itu mendapat sanksi. Putra laki-lakinya kelas IV di SD tersebut mengaku sering diperlakukan kasar oleh guru berinisial M. “Sanksi itu untuk memberikan pelajaran bagi yang lain agar tidak terulang lagi,” katanya.

Perlakuan kasar tersebut, ujarnya, seperti memukul kepala dan telinga. Meski tidak ada bekas luka pemukulan, namun perlakukan itu dinilai berlebihan dan mengganggu kejiwaan anak. “Anak saya jadi takut kalau pelajaran PPKN dan IPS. Tidak hanya anak saya, masih banyak korban lainnya,” ungkapnya.

Kecewa dengan sekolah

Atas kejadian ini, ia mengaku kecewa dengan pihak sekolah yang terkesan membiarkan guru itu bertindak kasar kepada murid-muridnya. Ia berencana memindahkan anaknya ke sekolah lain saat kenaikan kelas tahun depan. “Saya tanya anak dulu, kalau mau, saya pindah ke sekolah lain. Saya juga tidak akan menyekolahkan anak saya ke situ lagi,” katanya.

Sementara ketika dimintai keterangan tentang hal itu, Kepala SD Pangudi Luhur 1 dan 2, Istiyanto, mengungkapkan informasi itu tidak benar. Ketika dirinya ditelepon salah satu wali siswa yang melaporkan kejadian tersebut pada Senin (22/11), pagi harinya ia telah memanggil guru yang bersangkutan untuk dimintai keterangan.

Menurut pengakuan guru tersebut, terangnya, ia tidak memukul kepala anak sebagaimana dilaporkan siswa. Tapi memukul buku tugas anak karena tidak ada tanda tangan orangtua yang diminta guru tersebut. “Kadang memang guru tersebut menyentuh bagian belakang kepala anak ketika meminta mereka masuk kelas, tapi tidak memukul,” ujarnya.

Ia menjamin, jika hal itu benar terjadi, pasti guru yang bersangkutan akan mendapatkan sanksi dari yayasan.

Ia justru menduga adanya beberapa kemungkinan. Pertama, siswa yang melaporkan kejadian itu kepada orangtua tidak sebagaimana mestinya, atau memang ada orangtua yang tidak suka dengan sekolah lalu berniat menjelek-jelekkan sekolah. “Kadang anak juga perlu diwaspadai karena ada yang suka menceritakan sesuatu yang salah,” katanya. - Oleh : Ahmad Hartanto, Eni Widiastuti

2 komentar: